x

Ketika Bupati Sanggau Yohanes Ontot Cuma Berkoar, Rakyat Ini Menangis Beras Habis! Mimpi Buruk di Tengah Kemiskinan Parah

waktu baca 3 menit
Jumat, 1 Agu 2025 18:19 0 73 admin

Indotv.com.- Di sebuah negeri yang kaya akan emas, di mana sungai-sungai mengalirkan harapan, dan hutan-hutan menyimpan misteri, hiduplah sebuah drama yang tak kunjung usai. Panggungnya adalah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dan lakonnya adalah para tokoh yang berkuasa, rakyat yang merana, serta janji-janji yang berterbangan bagai dedaunan kering di musim kemarau.

Sang sutradara, yang sekaligus menjadi pemeran utama, adalah Bupati Yohanes Ontot. Dengan mimik serius dan suara lantang, beliau mengumumkan rencana operasi besar-besaran terhadap aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Sebuah pengumuman yang seharusnya disambut gembira, namun justru mengundang gelak tawa getir dari para penonton setia.

“Ya, bupati si omong besar,” demikian bisik seorang warga Sanggau yang tak ingin namanya tercantum dalam catatan sejarah. Sebuah kalimat yang sederhana, namun menyimpan sejuta makna. Sebuah sindiran yang mengoyak tirai kemunafikan.

Jerat Narkoba, Bayang-Bayang Kematian

Di balik gemerlapnya janji-janji, ada realita yang jauh lebih kelam. Sebuah fakta yang tak terbantahkan, yang terukir dalam catatan kelam Rutan Sanggau. Di sana, 70 persen penghuninya adalah para pecandu dan pengedar narkoba. Sebuah angka yang mencengangkan, yang menjadi cermin betapa rapuhnya negeri ini.

“Faktanya kalau penghuni Rutan Sanggau 70 persen adalah kasus narkoba,” tegas sumber tersebut. Sebuah pernyataan yang menusuk kalbu, yang mengingatkan kita bahwa ancaman terbesar bagi negeri ini bukanlah PETI, melainkan racun yang merusak jiwa dan raga.

Ketika Kewenangan Berkata Tidak

Namun, benarkah Bupati Yohanes Ontot adalah pahlawan yang kita nanti-nantikan? Ataukah beliau hanyalah seorang aktor yang sedang memainkan peran dalam sebuah sandiwara?

Mantan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, yang kini duduk sebagai anggota DPR RI, dengan bijak mengingatkan bahwa urusan PETI bukanlah wewenang sang bupati. Sebuah pernyataan yang menampar keras wajah para pemangku kebijakan.

“Bicara soal PETI, apa yang disampaikan Cornelis mantan Gubernur Kalbar yang saat ini anggota DPR RI itu bupati tidak memiliki kewengan. Karena itu menjadi urusan pemerintah pusat. Kerjakan saja apa yang menjadi kewenangannya,” begitu kata sang mantan gubernur.

Bahkan, Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, secara terang-terangan mengungkapkan dalam sebuah video yang viral bahwa bupati Sanggau tak memiliki kewenangan untuk melarang PETI. Sebuah pengakuan yang jujur, namun sekaligus menyakitkan.

Di tengah hiruk pikuk janji dan intrik, rakyat Sanggau hanya bisa meratapi nasib. Mereka merindukan gebrakan nyata, pembangunan yang merata, dan lapangan pekerjaan yang layak. Namun, yang mereka dapatkan hanyalah janji-janji manis yang tak kunjung terwujud.

Bupati Sanggau memang pandai berkoar tentang PETI, namun ia gagal menciptakan lapangan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sebuah ironi yang memilukan, yang membuat rakyat bertanya-tanya, “Apakah ini hanya sinetron atau lelucon belaka?”

Kisah di Sanggau ini adalah cermin bagi negeri kita. Sebuah pengingat bahwa kekuasaan tanpa tanggung jawab adalah omong kosong belaka. Sebuah peringatan bahwa harapan yang digantungkan pada janji-janji palsu akan berujung pada kekecewaan yang mendalam.

Namun, di tengah kegelapan, selalu ada secercah harapan. Harapan bahwa suatu saat nanti, akan lahir pemimpin yang benar-benar peduli pada rakyatnya. Pemimpin yang berani bertindak, bukan hanya berkoar. Pemimpin yang mampu mewujudkan mimpi, bukan hanya mengumbar janji.

Kisah di Sanggau adalah potret buram tentang kepemimpinan yang gagal. Sebuah sindiran pedas tentang janji-janji yang tak kunjung ditepati. Namun, di balik semua itu, ada harapan yang tak pernah padam. Harapan akan hadirnya pemimpin yang mampu membawa perubahan, yang mampu mewujudkan impian rakyat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x