x

Warga Marah! SPBU di Berkuak Diduga Jadikan Solar Subsidi Ladang Bisnis Ilegal

waktu baca 2 menit
Jumat, 9 Mei 2025 12:26 0 115 admin

Indotv4.com.- Balai Pinang Hulu, Ketapang — Aroma busuk dugaan penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali tercium tajam di Kecamatan Berkuak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. SPBU dengan nomor registrasi 65.788.003 diduga keras menjadi pusat praktik kotor penjualan BBM subsidi secara ilegal, mengakibatkan keresahan luas di kalangan masyarakat setempat.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan serta laporan warga, SPBU tersebut diduga rutin menyalurkan BBM bersubsidi jenis solar dan pertalite ke dalam jeriken dalam jumlah besar — bukan kepada kendaraan pribadi atau umum sebagaimana mestinya — tetapi kepada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang diduga memperjualbelikannya kembali demi keuntungan pribadi.

BBM untuk Rakyat, Bukan untuk Mafia!
Ironisnya, saat warga mengantri dengan harapan mendapatkan BBM subsidi untuk kebutuhan sehari-hari, SPBU justru memberikan “karpet merah” kepada antrean jeriken yang mencurigakan. “Susah sekali kami isi BBM untuk motor, sering kosong. Tapi jeriken-jeriken besar tetap dilayani,” ujar salah seorang warga dengan nada geram.

Kejadian ini jelas mencoreng semangat keadilan subsidi energi yang digariskan oleh pemerintah pusat. Subsidi yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat kecil justru disalahgunakan oleh segelintir oknum demi meraup keuntungan ilegal. Tidak hanya melanggar hukum, tindakan ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kebijakan negara dan penderitaan rakyat kecil.

Tuntutan Masyarakat: Tindak Tegas Tanpa Ampun!
Masyarakat Kecamatan Berkuak mendesak Pertamina, Kepolisian, dan aparat penegak hukum lainnya untuk segera turun tangan. Penyelidikan harus dilakukan secara transparan, dan jika terbukti bersalah, pengelola SPBU serta semua pihak yang terlibat harus dijatuhi sanksi tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Warga juga meminta agar pengawasan distribusi BBM subsidi diperketat dan transparansi diperbaiki agar praktik seperti ini tidak kembali terulang di masa depan.

“Sudah cukup rakyat kecil jadi korban. Kami tidak butuh janji, kami butuh tindakan nyata,” tegas seorang tokoh masyarakat yang ditemui di lokasi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x